Selasa, 30 September 2014

Perjalanan Tak Terlupakan di Balikpapan

Kalau anda sedang berkunjung ke Balikpapan jangan lupa berkunjung ke Bukit Bangkirai dan Canopy Bridge. Bukit Bangkirai terletak di KM 38 jalan Soekarno-Hatta. Untuk menuju ke Bukit Bangkirai diperlukan waktu sekitar 2 jam dari pusat kota. Kita harus menempuh perjalanan sekitar 13 KM untuk menuju bukit bangkirai dari gerbang utama. Perjalanan akan terasa membosankan karena kita benar-benar memasuki kawasan perhutanan dengan jalanan yang penuh lubang dan goncangan.

Masuk ke kawasan bukit bangkirai ini dikenakan biaya sebesar Rp.2000 untuk dewasa dan Rp.1000 utuk anak-anak, karena saya berkunjung pada hari kamis jadi hanya ada 3 mobil yang terparkir disitu.Setelah membeli karcis, kita harus masih berjuang untuk menuju canopy bridge. Yap, kita harus sabar untuk menaiki tangga demi tangga untuk menuju kawasan yang lebih tinggi, tapi selama perjalanan anda akan dibuat terpesona dengan lebatnya hutan yang ada di sekitar kita. Nah, setelah menaiki anak tangga selama sekitar 15-20 menit(tergantung kecepatan anda berjalan) akhirnya saya sampai di kawasan Canopy bridge.



Gerbang masuk canopy bridge
Saran saya untuk yang fobia ketinggian jangan berani-berani untuk naik jembatan ini karena tingginya mencapai 30 meter dari permukaan tanah. jadi canopy bridge ini adalah jembatan gantung yang terbuat dari kayu dengan ketinggian 30 meter dan hanya mengandalkan pegangan tangan pada tambang dan tali berbentuk jala. Sensasinya sangat luar biasa berada di ketinggian 30 meter dengan terpaan angin yang membuat jembatannya bergoyang.

diatas jembatan
Nah, setelah menyebrangi jembatan ini, jangan buru-buru turun kebawah karena pemandangannya sangat luar biasa, buat anda yang tinggal di perkotaan pasti akan terpesona dengan lebatnya hutan Kalimantan ini. Dan anda juga dapat mendengar suara kumbang dan kicauan burung yang membuat perjalanan anda terasa lengkap.

Senin, 30 Juni 2014

Proposal dan Laporan Keuangan "Nasi Goreng Enak"

PENDAHULUAN

A.1 Latar Belakang
Dalam suatu pemasaran banyak sekali berbagai bentuk dan macam-macam aneka ragam makanan dari yang kecil hingga yang besar dan dari yang murah sampai yang mahal.
            Dalam kebutuhan sehari-hari banyak sekali aktivitas yang dijalani dan juga pasti membutuhkan makanan yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Makanan-makanan memang sudah banyak sekali yang menjualnya tetapi makanan ini dibuat dengan sederhana dan cocok untuk di konsumsi oleh jenis usia yang berbeda .
            Dengan cara pembuatan yang sederhana, kualitas yang baik, higienis, harga yang terjangkau dan banyak masyarakat yang berminat untuk membelinya karena rasa yang enak, nikmat, dan lezat. Oleh karena itu saya memilih jenis usaha yaitu NASI GORENG ENAK karena makanan ini merupakan makanan yang paling mudah dimasak dan paling cocok dijadikan sarapan pagi.
A.2 Maksud dan Tujuan
Maksud saya dalam menjalankan usaha ini adalah untuk lebih mengembangkan jiwa wirausaha dan mempratekkan ilmu yang telah didapatkan dari sekolah tentang bagaimana menjadi seorang wirausaha yang baik.
Tujuan saya memilih jenis usaha ini yaitu :
1.      Mencari keuntungan/laba
2.      Menarik minat konsumen untuk merasakan makanan yang sudah terkenal
3.      Mencapai target penjualan
4.      Mendapat pengalaman
5.      Menambah uang saku


ASPEK PRODUKSI

B.1 Kebutuhan Bahan Baku
Kebutuhan bahan baku
            Bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi “Nasi Goreng Enak” ini merupakan bahan-bahan berkualitas.
            Bahan-bahan tersebut adalah  :
No.
Bahan baku
Banyaknya
1.
Nasi
½ liter
2.
Minyak
15 ml
3.
Telor
8 butir
4.
Kecap
50 ml
5.
Mika + sendok
15 buah
6.
Bumbu nasi goreng
250 gr

C.2 Proses Produksi
Proses pembuatan dari “Nasi Goreng Enak” di mulai dari:
1.      Panaskan wajan, masukkan minyak secukupnya
2.      Masukkan telur dan goreng secara acak, sisihkan
3.      Masukkan minyak sedikit, tumis bumbu nasi goreng, setelah harum
4.      Masukkan nasi, aduk hingga tercampur rata
5.      Tambahkan telur orak arik
6.      Tambahkan kecap, aduk hingga semua berwarna kecoklatan
7.      Angkat dan sajikan di dalam mika

  
KALKULASI KEUANGAN
C.1 Modal Produk
Perincian biaya bahan yang digunakan, sebagai berikut         :
No.
Bahan-bahan
Banyaknya
Jumlah

1.
Nasi
½ liter
Rp. 15.000
2.
Minyak
25 ml
Rp.   1.000
4.
Telor
8 butir
Rp.   8.000
5.
Kecap
50 ml
Rp.   3.500
6.
Mika + sendok
15 buah
Rp.   5.000
7.
Bumbu nasi goreng
2 sachet
Rp.   6.000
TOTAL
Rp. 38.500

Jadi total biaya bahan bakunya adalah Rp. 210.000,-
C.2 Biaya Operasional
Biaya operasional ini di gunakan untuk memproduksi sebanyak 15 pax “Nasi Goreng Enak”
No.
Uraian
Jumlah / hari
1.
gas
Rp. 15.000,-
TOTAL
Rp. 15.000,-


C.3 Harga Pokok Produksi
v  Untuk 15 pax
Total biaya bahan baku                                   = Rp.38.500,-
v  Untuk 1 pax

Total biaya produksi 100 pcs        =       Rp. 38.500,-
                      15                                              15
                                                      = Rp. 2.566,- (biaya produksi per pcs)

C.4 Rencana Bisnis
v  Harga pokok produksi /pcs              Rp. 2.566,-
v  Harga pokok produksi /15 pax        Rp. 38.500,-
v  Harga jual /pcs
            Harga pokok produksi + laba yang diinginkan
           Rp. 2.566,- + Rp. 1.434,-                =  Rp. 4.000,-
v  Harga penjualan seluruhnya /hari
Harga jual /pcs  X  banyaknya produk 1 hari
Rp. 4.000,- X  15               = Rp. 60.000,-

C.5 Rencana Anggaran Biaya
v  Pendapatan penjualan / hari                        = Rp. 60.000,-
v  Harga P.P seluruhnya                                  = Rp. 38.500,- (-)
v  Laba bersih                                                    = Rp. 21.500,-

  

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan untuk melakukan transaksi pemasaran produk, masih banyak yang harus diperhatikan :

1.      Sebagai calon wirausaha yang baik, kita harus mempunyai perhatian dan pandai kepada calon konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
2.      Memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang sangat bermanfaaat, sebagai penyajian dan pembuatan untuk memperluas dan memperdalam wawasan mengenai strategi wirausaha.
3.      Dengan membuka usaha kecil dengan memasarkan produk makanan akan menambah pengalaman dan mendidik menjadi disiplin dalam bekerja.
Harapan saya untuk usaha “ Naasi Goreng Enak “ ialah usaha ini bisa lebih berkembang dan maju. Di samping itu, saya mengharapkan usaha makanan ini dapat dijadikan batu loncatan atau pengalaman untuk membuka usaha yang lebih besar lagi.



Nama : Tika Dwityastuti
NPM : 17612383
Kelas : 2SA03


Kamis, 13 Maret 2014

Kewirausahaan


PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN

Soeparman Spemahamidjaja: Kewirausahaan adalah suatu kemampuan (ability) dalam berfikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak tujuan, siasat kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup.  

S. Wijandi:Kewirausahaan: adalah suatu sifat keberanian, keutamaan dalam keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri.  

Richard Cantillon: Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment).  

Drucker: Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different).  

Zimmerer: Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan.. 

Soeharto Prawiro: Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (star-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth).  

Achmad Sanusi: Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis

 

RUANG LINGKUP dan PROSES TERBENTUKNYA KEWIRAUSAHAAN


1. Disiplin Ilmu Kewirausahaan dan Perkembangannya
Dalam teori ekonomi, studi mengenai kewirausahaan ditekankan pada identifikasi
peluang yang terdapat pada peranserta membahas fungsi inovasi dari wirausaha
dalam menciptakan kombinasi sumber daya ekonomis sehingga memengaruhi
ekonomi agregat.
Studi kewirausahaan kemudian berkembang dalam disiplin ilmu lain yang
penekanannya pada sang wirausaha sendiri. Dalam bidang ilmu psikologi, misalnya
studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha, sedangkan pada
ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh dari lingkungan sosial dan
kebudayaan dalam pembentukan masyarakat wirausaha. Ray dan Ranachandran
(1996) menandaskan, walau terdapat perbedaan sudut pandang, penelitian yang
dilakukan baik oleh ahli ekonomi, psikologi, dan sosiologi harus tetap bepijak pada
kegiatan kewirausahaan serta sebab akibatnya pada tingkat mikro dan makro. Dengan
demikian adalah wajar jika studi kewirausahaan dengan penekanan keilmuan yang
berbeda itu pada akhirnya akan saling berhubungan dan memengaruhi.
Sementara itu fenomena kewirausahaan ini masih terus diteliti dan belum terdapat
satu pengertian baku yang dianut oleh semua ahli (Shapero, 1982). Ini menunjukkan
perkembangan teori ini masih dalam perjalanan panjang serta dari adanya perubahanperubahan
ekonomi dunia diharapkan memberi banyak masukan bagi peneliti.
Muculnya banyak wirausaha atau pebisnis, telah menarik perhatian para pakar
untuk meneliti bagaimana mereka terbantuk. Bagian ini menjelaskan teori-teori
mengenai proses pembentukan wirausaha. Teori tersebut antara lain: life path change,
goal directed behavior, teori outcome expectancy. Terakhir, terdapat acuan
komprehensif mengenai teori pembetukan wirausaha yang dipadukan oleh teori-teori
sebelumnya. Begitu banyak teori yang telah mengupas persoalan ini, intinya bahwa menjadi wirausaha adalah menjadi suatu proses

 KEWIRAUSAHAAN DILIHAT DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG

Terlepas dari berbagai definisi kewirausahaan yang dikemukakan oleh para ahli, wirausaha dapat dipandang dari berbagai sudut dan konteks, yaitu ahli ekonomi, manajemen, pelaku bisnis, psikolog dan pemodal.

Ø Pandangan Ahli Ekonomi
Menurut ahli ekonomi, wirausaha adalah orang yang mengkombinasikan factor-faktor produksi seperti sumber daya alam, tenaga kerja, material, dan peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya. Wirausaha juga merupakan orang yang memperkenalkan perubahan-perubahan, inovasi dan perbaikan produksi lainnya. Dengan kata lain, wirausaha adalah seseorang atau sekelompok orang yang mengorganisasikan factor-faktor produksi, sumber daya alam, tenaga, modal dan keahlian untuk tujuan memproduksi barang dan jasa.


Ø Pandangan Ahli Manajemen
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan dan mengkombinasikan sumber daya seperti keuangan, material, tenaga kerja, keterampilan untuk menghasilkan produk, proses produksi, bisnis dan orgasisasi usaha baru (Marzuki Usman, 1997:3). Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur internal yang meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimism, dorongan, semangat dan kemampuan memanfaatkan peluang usaha.


Ø Pandangan Pelaku Bisnis
Menurut Scarborough dan Zimmerer (1993 : 35), wirausaha adalah orang yang menciptakan suatu bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian dengan maksud untuk memperoleh keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengenali peluang dan mengkombinasikan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang tersebut.
Menurut Dun Steinhoff dan John F. Burgess (1993 : 35), pengusaha adalah orang yang mengorganisasikan, mengelola dan berani menanggung resiko sebuah usaha atau perusahaan. Sedang wirausaha adalah orang yang menanggung resiko keuangan, material, dan sumber daya manusia, cara menciptakan konsep usaha yang baru atau peluang dalam perusahaan yang sudah ada.
Dalam konteks bisnis menurut Sri Edi Swasono (1978 : 38), wirausaha adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. Wirausaha adalah pelopor dalam bisnis, innovator, penanggung resiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam prestasi di bidang usaha.


Ø Pandangan Psikolog
Wirausaha adalah orang memiliki dorongan kekuatan dari dalam dirinya untuk memperoleh suatu tujuan serta suka bereksperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya di luar kekuasaan orang lain.


Ø Pandangan Pemodal
Wirausaha adalah orang yang menciptakan kesejahteraan untuk orang lain, menemukan cara-cara baru untuk menggunakan sumber daya, mengurangi pemborosan dan membuka lapangan kerja yang disenangi masyarakat.


TEORI LIFE PATH CHANGE

Menurut Shapero dan Sokol (1982) dalam Sundjaja (1990), tidak semua wirausaha lahir dan berkembang mengikuti jalur yang sistematis dan terencana. Banyak orang yang menjadi wirausaha justru tidak memaluli proses yang direncanakan. Antara lain disebabkan oleh:
a. Negative displacement
Seseorang bisa saja menjadi wirausaha gara-gara dipecat dari tempatnya bekerja, tertekan, terhina atau mengalami kebosanan selam bekerja, dipaksa/terpaksa pindah dari daerah asal. Atau bisa juga karena sudah memasuki usia pensiun atau cerai perkawinan dan sejenisnya.
Banyaknya hambatan yang dialami keturunan Cina untuk memasuki bidang pekerjaan tertentu (misalnya menjadi pegawai negeri) menyisakan pilihan terbatas bagi mereka. Di sisi lain, menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarganya, menjadi wirausaha pada kondisi seperti ini adalah pilihan terbaik karena sifatnya yang bebas dan tidak bergantung pada birokrasi yang diskriminatif.

TEORI GOAL DIRECTED BEHAVIOUR


Menurut Wolman (1973), seseorang dapat saja menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu. Teori ini disebut dengan Goal Directed Behavior.
Teori ini hendak menggambarkan bagaimana seseorang tergerak menjadi wirausaha, motivasinya dapat terlihat langkah-langkahnya dalam emncapai tujuan (goal directed behavior). Diawali dari adanya dorongan need, kemudian goal directed behavior, hingga tercapainya tujuan. Sedangkan need itu sendiri dari skema muncul karena adanya deficit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri individu yang bersangkutan (wirausaha).
Seseorang terjun dalam dunia wirausaha diawali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan, ini mendorong kegiatan-kegiatan tertentu, yang ditujukan pada pencapaian tujuan. Dari kacaata teori need dan motivasi tingkah laku, seperti menemukan kesempatan berusaha, sampai mendirikan dan melembagakan usahanya merupakan goal directed behavior. Sedangkan goal tujuannya adalah mempertahankan dan memperbaiki kelangsungan hidu wirausaha.

 

TEORI OUTCOME EXPECTANCY


Bandura (1986) menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konskuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu.
…judgement about likely consequences of specific behaviors in particular situations.
(Bandura, 1986:82)
Dari definisi di atas, outcome expectancy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yan akan diperolehnya jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan. Seseorang memperkirakan bahwa keberhasilannya dalam melakukan tugas tertentu akan mendatangkan imbalan dengan nilai tertentu juga. Imbalan ini berupa juga insentif kerja yang dapat diperoleh dnegan segera atau dalam jangka panjang. Karenanya jika seseorang menganggap profesi wirausaha akan memberikan insentif yang sesuai dengan keinginannya maka dia akan berusaha untuk memenuhi keinginannya dengan menjadi wirausaha. Michael Dell, seorang mahasiswa teknik komputer di AS, mempunyai keyakinan yang kuat bahwa bila dia geluti serius hobi modifikasi komputer yang diminati teman-temannya ia akan dapat mengalahkan IBM kelak. Terdorong oleh hal itu Dell terus mengembangkan usaha dengan mendirikan Dell Corporation. Hingga kini Del dan IBM terus bersaing di industri komputer.

TUJUAN PEMBENTUKAN KEWIRAUSAHAAN

Teori-teori diatas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat menjadi wirausaha. Walau teori tersebut masing-masing berdiri sendiri, sebenarnya ke empat teori tersebut saling mengisi. Dengan memadukan ke empat teori tersebut dapat menjadi model tahapan pembentukan yang sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut adalah:



a. Deficit equilibrium
Seseorang merasa adanya kekurangan dalam dirinya dan berusaha untk mengatasinya. Kekurangan tersebut tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lain-lain). Deficit equilibrium dapat pula terjadi karena berubahnya jalur hidup, seperti jika seseorang mendapat tekanan atau hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta mendapat dukungan dari orang lain (Shapero & Sokol, 1982).


b. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha
Perasaan kekurangan mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia mengevaluasi alternatif pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan perseptual, kapasitas informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan, tingkat aspirasinya terhadap suatu alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat besar (Reitman, 1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi wirausaha.


c. Goal Directed Behavior
Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya harapan sebagai pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia dapat jika melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman, 1973).


d. Pencapaian Tujuan
Seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan sangat penting untuk pengambilan keputusan menjadi wirausaha. Tujuan ini berupa insentif yang diyakini akan dinikmati jika seseorang melaukan kegiatan tertentu.


PERANAN PENDIDIKAN DALAM PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN


Bagaimana peran pendidikan dalam proses pembetukan kewirausahaan? Masih ada perdebatan mengenai pertanyan ini. Meskipun seorang wirausaha belajar dari lingkungannya dalam memahami dunia wirausaha, namn ada pendapat yang mengatakan bahwa seorang wirausaha lebih memiliki streetsmart daripada booksmart, maksudnya adalah seorang wirausaha lebih mengutamakan untuk belajar dari pengalaman (streetsmart) dibandingkan dengan belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart). Pandangan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka secara tidak langsung usaha-usaha yang dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa kewirausahaan leat jalur pendidikan formal pada akhirnya sukar untuk berhasil.
Terhadap pendangan di atas, Chruchill (1987) memberi sanggahan terhadap pendapat ini, menurutnya masalah pendidikan sangatlah penting bagi keberhasilan wirausaha. Bahkan dia mengatakan bahwa kegagalan pertama dari seorang wirausaha adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun dia juga tidak menganggap remeh arti pengalaman bagi seoranga wirausaha, baginya sumber kegagalan kedua adalah jika seorang wirausaha hanya bermodalkan pendidikan tapi miskin pengalamam lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara pendidikan dan pengalaman adalah faktor utaman yang menentukan keberhasilan wirausaha.
Menurut Eels (1984) dam Mas’oed (1994), dibandingkan dengan tenaga lain tenaga terdidik S1 memiliki potensi lebih besar untuk berhasil menjadi seorang wirausaha karena memiliki kemampuan penalaran yang telah berkembang dan wawasan berpikir yang lebih luas. Seorang sarjana juga memiliki dua peran pokok, pertama sebagai manajer dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran pertama berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah, sehingga pegnetahuan manajemen dan keteknikan yang memadai mutalk diperlukan. Peran kedua menekankan pada perlunya kemampuan merangkai alternatif-alternatif. Dalam hal ini bekal yang diperlukan berupa pengetahuan keilmuan yang lengkap.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan seta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir.


FAKTOR-FAKTOR PEMICU KEWIRAUSAHAAN


David C. McClelland (1961 : 207) mengemukakan bahwa kewirausahaan ditentukan oleh motif berprestasi, optimisme, sikap nilai dan status keswirausahaan. Perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor internal meliputi hak kepemilikan (property right), kemampuan/kompetensi (ability/competency) dan insentif, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan (environment).


 
Sumber            :